Pengaruh sebuah Pengetahuan, Skill dan Attitude terhadap Usaha
Kewirausahaan (entrepreneurship) telah
lama didiskusikan, diteliti, dan juga dirasakan manfaatnya. Cantillon pada
tahun 1755 menyatakan bahwa sirkulasi barang/jasa dilakukan oleh para wirausaha
atau ’entrepreneurs’ . Peran dari para “entrepreneur”juga telah dapat dirasakan
manfaatnya di negara maju seperti United State of America (USA). Koratko dan
Hodgetts menyatakan bahwa “the US Success has at least three
entrepreneurial components (l) large firms (2) new entreprenuerial companies
have been blossoming and (3) smaller firms have been founded, including many
established by women, minorities, and immigrants”.
Rancangan penelitian akan
diaplikasikan sektor industri kecil dan menengah (IKM) yang mempunyai
lingkungan yang dinamis penuh ketidak pastian (seperti pesaing, pelanggan,
supplier, regulator dan asosiasi usaha), dan intensitas persaingan yang tinggi
(seperti price, product, technology, distribution, manpower, dan raw
material-lihat pada Hashim, Wafa and Sulaiman, 2001) serta membutuhkan
kemampuan manajemen yang baik, yaitu pada usaha IKM Bordir di Jawa Timur.
Dampak dari orientasi kewirausahaan terhadap “venture growth”(Growth of Sales
and Profit) telah diteliti oleh Lee dan Tsang (2001 hal 599) di mana orientasi
kewirausan terdiri atas unsur (1) need for achievement(2) internal locus of
control (3) self-reliance dan (4) extroversion. Steward et al(2003) juga
meneliti aspek kewirausahaan dengan unsur (1) achievement (2) innovation dan
(3) risk terhadap goal orientation dengan membandingkan antara sikap wirausaha
di USA dibandingkan dengan di sikap wirausaha di Rusia. Demikian pulaVitale,
Giglierano dan Miles menguji pengaruh orientasi kewirausahaan yang terdiri atas
unsur (1) innovating, (2) acting roactively dan (3) managing risk terhadap
performance atau growth.
Jumlah ‘small business
owner–manager’ di Indonesia yang sangat besar jumlah, walaupun hampir
separuhnya bekerja dis ektor informal juga menjadi salah satu alasan mengapa
dilakukan penelitian ini. Sethuraman melaporkan bahwa besarnya proporsi orang
yang bekerja disektor informal (yang meliputi self-employed dan self-employed
assisted temporarily by family) di Indonesia adalah:
a. 49.24% disub sektor perdagangan
(trade & restourant).
b. 18.66%, di subsektor pengolahan
dan penggalian (mining& quarrying).
c. 4.36% di sub sektor bangunan
(construction).
d. 5.36% di sub sektor transportasi
dan komunikasi,
serta
e. 18.52% di sub sektor pelayanan
masyarakat (public service) dari total pekerja yang
bekerja pada
masing masing sub-sektor.
Kemampuan Manajemen
Walaupun para peneliti memiliki
pemikiran yang berbeda di dalam menetapkan berbagai atribut dari efektivitas
managerial, tetapi pada dasarnya terdapat 3 komponen penting, yaitu perilaku
yang sesuai, motivasi dan kemampuan (skill). Pada penelitian ini lebih dikhususkan
pada kemampuan manajemen. Dalam penelitian ini kemampuan manajemen diukur
dengan menggunakan 10 indikator, yang digunakan dalam penelitian Latif, yaitu:
1. Komunikasi verbal (verbal
communication)
2. Mengatur waktu dan tekanan
(managing time and stress)
3. Mengatur keputusan
individu (managing indi-vidual decisions)
4. Mengenali, menetapkan dan
memecahkan per-masalahan (recognizing, defining, and
solving
problems)
5. Memotivasi dan
mempengaruhi orang lain (motivating and influencing others)
6. Pendelegasian (delegating)
7. Menentukan tujuan dan
mengartikulasikan visi (setting goals and articulating a vision)
8. Kesadaran diri
(self-awareness)
9. Membangun tim (team
building)
10. Mengatur konflik (managing
conflict)
Setiap usaha atau perusahan baik
kecil atau berskala besar dalam pengelolaannya untuk mencapai hasil yang
efektif dan efisien penerapan prinsip-prinsip manajemen rsangat diperlukan,
peranan pimpinan atau pemilik usaha untuk memahami dan mampu menjalankan
fungsi-fungsi utama manajemen menjadi hal yang utama bagi keberhasilan usaha
dimasa mendatang.
Strategi Bisnis
Para ahli perencana strategi percaya
bahwa filosofi umum yang menggambarkan bisnis atau usaha perusahaan tercermin
pada missi yang harus dapat diterjemahkan pada pernyataan dalam strategi bisnis
yang ditetapkan. Perencanaan strategi bahwa strategi jangka panjang diturunkan
dari usaha perusahaan untuk mencari dasar keunggulan bersaing dari strategi
generi (Pearch II dan Robinson, 2007) yaitu:
1. Mengejar untuk mencapai biaya
rendah (overall Cost Leadership) dalam industri. untuk pengendalian biaya dalam
overal cost leadership dilakukan efesiensi biaya yang dapat diperoleh dari
memiliki karyawan yang ber-pengalaman, pengendalian biaya everhead,
meminimalkan biaya penelitian dan pengem-bangan, service, wiraniaga, periklanan
dan lain sebagainya.
2. Mengejar untuk mencaiptakan
produk yang unik untuk pelanggan yang bervariasi atau differensiasi
(differentiation). Differensiasi dapat dilakukan melalui dimensi citra
rancangan atau merk, teknologi yang digunakan, karakteristik khusus, service
pada pelanggan dan punya distribusi yang lebih baik. Keunggulan dalam
menggunakan differensiasi selain laba di atas rata-rata adalah kepekaan
konsumen terhadap harga kurang, produk-produk differensiasi menciptakan
hambatan masuk yang tinggi dan posisi terhadap produk pengganti juga tinggi.
3. Mengejar untuk melayani
permintaan khusus pada satu atau beberapa kelompok konsumen atau industri.
Memfokuskan (focusting) pada biaya atau diferensiasi.
Strategi focus didasarkan pada usaha
memenuhi kebutuhan khususnya dari pelanggan, dengan lini produk yang sedikit.
Semua itu untuk menghindar dari produk konsumen yang rawan terhadap perang
iklan dan introduksi produk baru yang pesat.
Ketiga strategi bisnis di atas
disebut juga dengan strategi generic yang dikembangkan oleh Porter yang
digunakan untuk menghadapi 5 (lima) kekuatan yang mempengaruhi industri.
Kinerja
Kinerja adalah merujuk pada tingkat
pencapaian atau prestasi dari perusahaan dalam periode waktu tertentu. Kinerja
sebuah perusahaan adalah hal yang sangat menentukan dalam perkembangan
perusahaan. Tujuan perusahaan yang terdiri dari: tetap berdiri atau eksis
(survive), untuk memperoleh laba (benefit) dan dapat berkembang (growth), dapat
tercapai apabila perusahaan tersebut mempunyai performa yang baik. Kinerja
(performa) perusahaan dapat dilihat dari tingkat penjualan, tingkat keuntungan,
pengembalian modal, tingkat turn over dan pangsa pasar yang diraihnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar